Cianjur, Jawa Barat — www.mataharikeadilannusantara.id – Minggu, 05 Juli 2026 – Gereja Persekutuan Injil Eliezer (GPIE) akan menggelar perayaan Hari Ulang Tahun ke-91 yang dirangkaikan dengan ibadah syukur atas panen pada Sabtu, 11 Juli 2026, di Cianjur, Jawa Barat.
Perayaan iman ini menjadi momentum penting bagi seluruh jemaat dan simpatisan GPIE untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan sekaligus memperteguh semangat pelayanan di tengah tantangan zaman.
Kegiatan tersebut diusung oleh Majelis Tinggi Sinode (MTS) GPIE sebagai bentuk ucapan syukur atas perjalanan panjang gereja yang telah berdiri sejak 11 Juli 1935. Dalam catatan sejarah yang berkembang, GPIE memiliki akar pelayanan yang kuat di wilayah Kampung Jatinunggal, Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, yang sejak awal menjadi salah satu pusat pertumbuhan kekristenan di tanah Pasundan.
Tema yang diangkat pada perayaan tahun ini ialah “Nunduk Pas Panen, Kokoh Pas Badai”. Tema ini mengandung pesan rohani yang kuat: tetap rendah hati saat menerima berkat, namun tetap teguh dan beriman ketika menghadapi pergumulan hidup.
Dalam konteks pelayanan gereja, tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi jemaat yang dihadapkan pada berbagai dinamika sosial, ekonomi, dan spiritual di tengah perubahan zaman.
Perayaan HUT ke-91 ini tidak hanya menjadi seremoni ulang tahun gereja, melainkan juga bentuk pengakuan iman atas penyertaan Tuhan dalam sejarah dan perjalanan pelayanan GPIE.
Dalam usia yang memasuki sembilan dekade lebih, gereja dipandang telah melewati berbagai fase pergumulan, pertumbuhan, dan pembaruan, namun tetap berdiri sebagai bagian dari kesaksian iman di tengah masyarakat.
Rangkaian ibadah syukur panen juga memiliki makna tersendiri bagi jemaat, terutama sebagai ungkapan terima kasih atas hasil kerja, pemeliharaan Tuhan, dan berkat yang diterima sepanjang tahun pelayanan.
Di tengah berbagai tantangan pertanian dan kondisi alam yang tidak selalu mudah diprediksi, syukur panen menjadi simbol bahwa keberhasilan bukan hanya buah kerja keras manusia, tetapi juga hasil dari penyertaan ilahi.
Cianjur sendiri dalam beberapa waktu terakhir diketahui tetap menjadi wilayah yang aktif dalam berbagai kegiatan panen raya dan syukur hasil bumi. Karena itu, perayaan yang digelar GPIE tidak hanya bernuansa internal gerejawi, tetapi juga mencerminkan kedekatan gereja dengan realitas kehidupan jemaat yang hidup dari kerja, ladang, dan hasil bumi.
Majelis Tinggi Sinode (MTS) GPIE melalui undangan resminya mengajak seluruh jemaat dan simpatisan GPIE di mana pun berada untuk hadir dan mengambil bagian dalam perayaan ini.
Undangan tersebut ditujukan sebagai ajakan persekutuan, agar sukacita ulang tahun gereja dan ibadah syukur panen menjadi milik bersama, bukan hanya bagi jemaat di Cianjur, tetapi juga bagi keluarga besar GPIE di berbagai daerah.
Dalam konteks pelayanan gerejawi, kehadiran jemaat dari berbagai tempat diyakini akan memperkuat semangat kebersamaan dan solidaritas iman.
Perayaan seperti ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antargenerasi, meneguhkan kembali identitas gereja, dan menghidupkan semangat pelayanan yang setia di tengah tantangan kehidupan modern.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa GPIE memiliki sejarah panjang sejak masa awal pembentukannya pada 11 Juli 1935, dan terus berkembang melalui pelayanan para pendahulu serta generasi penerusnya.
Jejak sejarah tersebut menjadi fondasi penting bagi perayaan HUT ke-91, karena setiap ulang tahun gereja bukan hanya menghitung usia, melainkan juga menegaskan kesinambungan panggilan pelayanan.
Di sisi lain, tema “Nunduk Pas Panen, Kokoh Pas Badai” juga dapat dibaca sebagai panggilan bagi gereja untuk tetap hadir dengan kerendahan hati saat menikmati hasil, tetapi tidak goyah ketika menghadapi tekanan, pergumulan, maupun ketidakpastian hidup. Dalam bahasa yang sederhana, gereja diajak untuk tetap bersandar kepada Tuhan baik dalam masa kelimpahan maupun dalam masa ujian.
Kehadiran seluruh jemaat dan simpatisan akan menjadi sukacita tersendiri bagi keluarga besar GPIE.
Perayaan ini diharapkan menjadi momen yang mempererat persaudaraan, memperteguh iman, dan meneguhkan kembali komitmen pelayanan gereja di tengah masyarakat.
Redaksi MKN.
Sumber: MTS GPIE


















